Peran Dunia Maya dalam Memajukan Pendidikan

Publicado  Sabtu, 08 Mei 2010

Sebelum adanya Internet, masalah utama yang dihadapi oleh pendidikan adalah akses kepada sumber informasi. Perpustakaan yang konvensional merupakan sumber informasi yang sayangnya tidak murah. Adanya Internet memungkinkan kita mengakses informasi dari jarak jauh.
Internet dapat dianggap sebagai sumber informasi yang sangat besar. Bidang apa pun yang anda minati, pasti ada informasi di Internet. Contoh-contoh sumber informasi yang tersedia secara online antara lain:
• Library
• Online Journal
• Online courses. MIT mulai membuka semua materi kuliahnya di Internet.
Di Indonesia, masalah kelangkaan sumber informasi konvensional (perpustakaan) lebih berat dibanding dengan tempat lain. Adanya Internet merupakan salah satu solusi pamungkas untuk mengatasi masalah ini, yaitu :
1. Akses ke pakar. Internet menghilangkan batas ruang dan waktu sehingga memungkinan seorang siswa berkomunikasi dengan pakar di tempat lain. Sebelum ada Internet, cara untuk mengakses pakar adalah dengan menggunakan telepon dan fax atau langsung datang ke tempat yang bersangkutan. Cara ini lamban, mahal, sulit mencocokkan waktu, serta adanya hambatan komunikasi secara verbal .
2. Media kerjasama. Kolaborasi atau kerjasama antara pihak-pihak yang terlibat dalam bidang pendidikan dapat terjadi dengan lebih mudah, efisien, dan lebih murah.
3. Kemudahan mendapatkan resource yang lengkap.
4. Atifitas pembelajaran pelajar meningkat,
5. Daya tampung meningkat.
6. Adanya standardisasi pembelajaran,
7. Meningkatkan learning outcomes baik kuantitas/kualitas.
8. Proses pembelajaran lebih menarik. Melalui internet pembelajaran tidak monoton dan jenuh karena dalam internet ada hal-hal baru yang variatif dan inovatif.
9. Mempermudah dan mempercepat administrasi pendidikan.
10. Sebagai perpustakaan elektronik.
Internet merupakan salah satu produk teknologi yang dapat membantu kita meningkatkan taraf hidup melalui pendidikan. Meskipun masih banyak tantangan, kita masih dapat memanfaatkan Internet sebesar mungkin.
»»  READMORE...

SIMULASI KELULUSAN UN SMA TAHUN 2010 BERDASARKAN PERMENDIKNAS RI No. 75 Tahun 2009

Publicado  

(1) Peserta UN SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB, dan SMK dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan UN sebagai berikut:



a. memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya;


b. khusus untuk SMK, nilai mata pelajaran praktik kejuruan minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN.



Dari klausa di atas, ada tiga hal yang perlu diperhatikan jika ingin LULUS.



1) Nilai rata-rata UN minimal harus 5.50

2) Boleh saja mendapat nilai 4,00 tetapi tidak boleh lebih dari dua mata pelajaran

3) Jika ada dua mata pelajaran yang mendapat nilai 4,00, nilai mata pelajaran lain tidak boleh di bawah 4,25. Ingat! Nilai rata-rata minimal 5.50. Nggak bisa ditawar!



Sebagai ilustrasi, cermatilah tabel di bawah ini.

Mata pelajaran


Nilai UN

Enmity


Bo Nita


Lodang


Galang


Bowie


Coqlin


Sheli


Intan

Bahasa Indonesia


5.50


5.49


4.00


4.00


3.90


4.00


4.00


10.00

Bahasa Inggris


5.50


5.50


4.00


4.00


10.00


4.00


4.00


9.50

Matematika


5.50


5.50


4.25


4.25


10.00


4.24


4.25


9.80

Fisika


5.50


5.50


6.50


4.25


10.00


10.00


9.75


10.00

Kimia


5.50


5.50


6.70


7.50


10.00


10.00


5.50


9.80

Biologi


5.50


5.50


7.50


9.00


10.00


10.00


5.50


9.82

Jumlah


33.00


32.99


32.95


33.00


53.90


42.24


33.00


58.92

Rata-rata


5.50


5.49


5.49


5.50


8.98


7.04


5.50


9.82




Siapa di antara mereka, yang dinyatakan LULUS dan siapa TIDAK LULUS?



Mari kita analisis bersama.



Enmity

Nilainya pas-pasan, tetapi dia boleh tersenyum lega. Pasalnya, nilai rata-rata yang diraihnya telah memenuhi ketentuan, yaitu 5.50. Jadi, dia dinyatakan LULUS.



Bo Nita

Apes bener nasibnya. Gara-gara ada satu mata pelajaran yang nilainya Cuma 5,49, nilai rata-ratanya tidak mencapai 5.50. Dengan berat hati dia, dinyatakan TIDAK LULUS.



Lodang

Sangat disayangkan. Pada tiga mata pelajaran nilainya cukup bagus. Dua mata pelajaran mendapat nilai 4,00 dan satu mata pelajaran mendapat nilai 4,25. Namun, nilai rata-ratanya tidak mencapai 5.50. Apa boleh buat, dia dinyatakan TIDAK LULUS.



Galang

Lain ladang, lain belalang, lain Lodang, lain pula Galang. Nasib baik lebih berpihak ke Galang daripada Lodang. Meskipun dua mata pelajaran mendapat nilai 4,00 dan dua mata pelajaran mendapat nilai 4,25 (lebih jelek dibanding Lodang), tetapi nilai dua mata pelajaran lainnya sangat bagus sehingga nilai rata-rata yang dia raih mencapai 5,50. Oleh karena itu, dia dinyatakan LULUS.



Bowwie

Supertragis. Ungkapan tersebut sangat tepat untuk menggambarkan nasib Bowwie. Bayangin aja! Lima mata pelajaran mendapat nilai sempurna, yaitu 10.00. Hanya karena satu mata pelajaran yang mendapat nilai di bawah 4,00, dia dinyatakan TIDAK LULUS.



Coqlin

Mimpinya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi harus tertunda pada tahun ini. Pasalnya meskipun dua mata pelajaran yang diujikan dalam UN mendapat nilai 4.00, sementara secara rata-rata nilainya jauh melebihi 5.50, tetapi karena ada satu mata pelajaran mendapat nilai 4,24 dengan berat hati dia dinyatakan TIDAK LULUS.



Sheli

Bak kerikil di bibir jurang. Nyaris saja teman kita ini tergelincir ke jurang penyesalan. Hampir saja dia tidak lulus. lihat saja, dua mata pelajaran mendapat nilai 4.00, satu mata pelajaran mendapat nilai 4.25, dan dua mata pelajaran nilainya hanya pas-pasan, yaitu 5.50. Untungnya salah satu mata pelajaran mendapat nilai bagus sehingga nilai rata-ratanya pas 5.50. Jadi, dia dinyatakan LULUS.



Intan

Wauw…WONDERFUL! Itulah komentar buat sobat kita ini. Nilainya nyaris sempurna! Dia tidak sekedar LULUS, tetapi lulus dengan nilai membanggakan. Inilah yang perlu kamu contoh! Mau tahu rahasia kesuksesannya? Ikuti Try Out Online Telkom-Republika-Alumni !!!!
»»  READMORE...

Membangun Masyarakat Cerdas Bersama Telkom

Publicado  

Selain program Internet Goes to School, TELKOM juga telah mengembangkan program Community Access Point, e-Learning, Smart Campus, dan Generasi Baru Guru Indonesia yang merupakan langkah strategis dalam perannya membangun masyarakat cerdas.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa, Indonesia jelas menghadapi tantangan yang sangat berat, baik saat ini maupun di masa datang. Pertama, tantangan bagaimana meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, sehingga mampu memiliki dua hal ini, tak ada jalan pintas, karenanya diperlukan upaya yang bersifat jangka panjang, yang sudah tentu akan melibatkan banyak orang dan institusi. Kedua, jumlah penduduk yang besar sekaligus juga merupakan pasar sangat potensial bagi pertumbuhan berbagai produk dan jasa, dan investasi.

Namun, saat ini, Indonesia tengah dihadapkan pada kondisi yang tidak mudah, yakni
kemiskinan dan kebodohan. Ini merupakan dua hal yang sangat berpengaruh dan menjadi problematika besar bangsa ini. Terhadap dua hal ini, tak ada jalan pintas, karenanya diperlukan upaya yang bersifat jangka panjang, yang sudah tentu akan melibatkan banyak orang dan institusi.

PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM), sebagai BUMN yang bergerak di bidang penyediaan dan pelayanan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (Infokom), berinisiatif untuk berperan aktif dalam upaya mengatasi masalah tersebut, salah satunya, melalui komitmen "Membangun Masyarakat Cerdas Bersama TELKOM" dalam program TELKOM Corporate Social Responsibilitynya.

KESENJANGAN DIGITAL

Kesenjangan digital (digital divide) sangat dirasakan tidak saja dalam kaitan paradoks kota besar dan kecil, kota dan desa, melainkan juga dalam suatu kota, terutama sejak penggunaan Internet secara luas dan meningkatnya arus informasi yang sangat dominan, yang didukung platform Teknologi dan Sistem Informasi. Kesenjangan digital juga terkait dengan kesetaraan memperoleh peluang. Karenanya, sangat diperlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk memperkecil kesenjangan itu.

Namun, dengan cakupan yang begitu luas, TELKOM berinisiatif mengambil peran yang lebih spesifik, yakni bagaimana memfasilitasi akses Internet untuk masyarakat, termasuk komunitas sekolah. Karena sekolah merupakan lingkungan persemaian anak-anak bangsa, yang di masa datang dipercaya akan mengusung kemajuan dan sekaligus cerminan keberhasilan bangsa.

Dengan mendukung akses yang lebih baik dan mudah ke berbagai sumber informasi,
maka komunitas sekolah diharapkan akan mampu membangun jembatan atas kesenjangan digital yang terjadi. Begitu juga, masyarakat luas akan memperoleh peluang yang sama dalam mengakses dan memanfaatkan informasi. Karenanya, mereka layak memperoleh uluran tangan dari institusi, seperti TELKOM, untuk
membangun dirinya secara lebih baik. Hal ini bukan saja penting, melainkan juga sangat strategis.

MISI TELKOM

Dengan kemampuannya yang besar dalam penyediaan infrastruktur jaringan dan layanan Infokom yang luas, TELKOM sangat berkompeten dalam membantu mengurangi semakin lebarnya kesenjangan digital dan sekaligus membangun masyarakat cerdas. Guna mewujudkan komitmen tersebut, TELKOM telah mengembangkan berbagai program strategis di bidang pendidikan yang berkelanjutan, antara lain:

Internet Goes To School (IG2S)

Sebagai bentuk kepedulian sosial, sejak tahun 1999 TELKOM telah mengembangkan
program IG2S, yang ditujukan untuk mengatasi kesenjangan terhadap akses informasi melalui Internet di kalangan masyarakat, khususnya di lingkungan sekolahsekolah, madrasah, dan pesantren.

Melalui program IG2S, TELKOM memberikan donasi dan investasi sosial, khususnya
dalam bidang pendidikan dan pelatihan yang terkait dengan akses Internet. Hal ini dipercaya akan memberikan cara baru yang lebih maju bagi kalangan sekolah untuk mengakses berbagai sumber informasi dan bahan pendidikan yang diperlukan.

Selama tahun 2005 saja, program IG2S telah berhasil memberikan pelatihan kepada
ratusan ribu siswa dari puluhan ribu sekolah. Program IG2S juga telah memberikan bantuan fasilitas berupa 220 komputer PC, 612 SST Telkomnet Instan, 258 SSL broadband, dan membangun 2.571 sekolah online.

Terhitung sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2006, Program IG2S telah melibatkan 70.000 sekolah (Internet Awareness) di seluruh Indonesia. Dengan begitu, TELKOM telah berkontribusi terhadap lebih kurang 30% dari seluruh sekolah yang ada, yang berjumlah 219.500 sekolah dan madrasah di Indonesia (lihat Tabel 1 & 2).

Tabel 1: Jumlah Siswa & Sekolah Partisipan.
Program Internet Goes To School (IG2S) Tahun 2005
Program IG2S Awareness 272.056
Program IG2S Fasilitas 265.497
Program IG2S Pembelajaran Intensif 20.243
Program IG2S Pengembangan Sekolah Online 2.724
Program IG2S Pembangunan Citra Perusahaan 7.021

Program IG2S Awareness 6.692
Program IG2S Fasilitas 4.373
Program IG2S Pembelajaran Intensif 5.376
Program IG2S Pengembangan Sekolah Online 20.243
Program IG2S Pembangunan Citra Perusahaan 713

Tabel 2: Jumlah Sekolah Menengah & Madrasah di Indonesia
Sekolah SMU SMP SD Jumlah
12.000 21.000 145.000 178.000
Madrasah Aliyah Tsanawiyah Ibtidaiyah
4.000 11.500 26.000 41.500
Total Sekolah (Depdiknas/Depag) 219.500

Community Access Point (CAP)

Melalui kerjasamanya dengan PT Pos Indonesia, TELKOM membangun CAP yang diwujudkan dalam bentuk pendirian Warung Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Warmasi). Penandatanganan Naskah Nota Kesepahaman (MoU) kerjasama tersebut telah dilakukan oleh Direktur Utama PT TELKOM, Tbk, Arwin Rasyid, dan Direktur Utama PT Pos Indonesia, Hana Suryana, di Bandung pada 3 Mei 2006.

Warmasi akan dilengkapi dengan infrastruktur jaringan komunikasi dan akses Internet, e-business, value added service, call center, dan pemanfaatan jasa kiriman pos, yang memungkinkan masyarakat yang berkunjung ke kantor pos dapat mengakses Internet secara gratis, dan melakukan kegiatan komunikasi lainnya dengan mudah. Layanan tersebut akan tersedia di 500 kantor pos di seluruh Indonesia.

Selain itu, penyediaan akses Internet gratis ini juga ditujukan untuk mempercepat
penetrasi Internet di Indonesia dan sekaligus memperkecil kesenjangan digital di masyarakat. Karenanya, untuk tahap awal, seluruh kantor pos yang berada di setiap ibukota propinsi akan diubah menjadi Warmasi. Kemudian, disusul oleh kantor poskantor pos lainnya yang ada di kabupaten dan kota.

e-Learning
Untuk mendukung terbangunnya system e-Learning di Indonesia, TELKOM telah menandatangani Naskah Nota Kesepahaman (MoU) dengan Departemen Komunikasi
dan Informatika (Depkominfo), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dan Departemen Agama (Depag), yang dilakukan di Yogyakarta pada 22 Mei 2006. Kerjasama tersebut ditujukan untuk mendukung program bersama dalam Distribusi Bahan Ajar Online (e-Learning).

Melalui kerjasama tersebut, TELKOM berperan dalam penyediaan infrastruktur jaringan akses Internet ke 1.035 sekolah menengah atas (SMU dan Madrasah Aliyah) di seluruh Indonesia. Selain mendukung distribusi bahan ajar online, diharapkan juga akan menjadi titik awal penerapan sistem e-Learning di Indonesia, yang melibatkan ribuan sekolah. Karenanya, selain menyiapkan perangkat dan infrastruktur jaringan akses Internet, TELKOM juga akan ikut dalam penyusunan modul-modul pendukung pendidikan dan pelaksanaan program e-Learning.

Langkah ini merupakan suatu lompatan bersejarah bagi TELKOM dan dunia pendidikan di Indonesia. Karena, pelaksanaan e-Learning ini mendapat dukungan dan dorongan formal dari institusi terkait dengan pendidikan, yakni Depdiknas, Depag, dan Depkominfo. Bagi TELKOM hal ini jelas sangat strategis, terutama dalam keikutsertaannya mencerdaskan bangsa.

Kerjasama yang dilakukan selama tiga tahun ke depan itu, akan mencakup penyediaan akses Internet ke 1.035 sekolah. Dimana 1.000 sekolah akan memperoleh fasilitas akses Internet dial-up, dan 35 sekolah lainnya menggunakan Dedicated Internet Access – ASTINet.

Dari 35 sekolah yang akan memperoleh akses Internet dedicated, 15 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan memperoleh bandwidth 256 Kbps, sedang Sekolah Menengah Umum (SMU) dan 10 Madrasah Aliyah (MA) masing-masing memperoleh bandwidth 64 Kbps.
Sedang untuk penyediaan akses Internet dialup bagi 1.000 sekolah lainnya (500 SMU dan 500 MA) akan menggunakan Internet Fleksi Paket Data Network.

Untuk dukungan program e-Learning ini berikut akses cumacuma selama satu tahun, TELKOM tak kurang mengontribusi sebesar 15 miliar rupiah hingga tiga tahun ke depan, termasuk di dalamnya dana pengadaan 35 router dan 1.000 buah modem.

Smart Campus

Untuk kebutuhan kalangan perguruan tinggi, TELKOM menyediakan solusi Smart Campus, yang berupa layanan Total Solusi Infokom Terintegrasi untuk kebutuhan komunikasi multimedia. Untuk itu, TELKOM telah bekerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, antara lain UGM, ITB, UI dan universitas lainnya. Solusi yang disediakan berupa penyediaan infrastruktur, layanan dasar kampus, aplikasi dan konten, serta pengelolaan bisnis dan kastamer di lingkungan kampus.

Smart Campus akan memungkinkan suatu kampus akan terhubung secara online dengan entitas di luar kampus, seperti kampus-kampus lainnya di dalam maupun luar negeri, dan juga entitas komersial (bank, industri dll). Dengan begitu, proses pembelajaran berbasis teknologi, seperti distance learning, pertukaran data, kolaborasi dalam kegiatan riset, misalnya, dapat dilakukan secara real-time. Diharapkan dengan solusi Smart Campus akan semakin meningkatkan produktivitas, baik di kalangan mahasiswa maupun perguruan tinggi.

Generasi Baru Guru

Tidak hanya bagi siswa, Telkom juga memberikan perhatian terhadap guru sebagai elemen kunci dalam membangun generasi bangsa yang cerdas. Generasi Baru Guru, demikian nama prgram CSR tersebut, ditujukan untuk membantu meningkatkan kualitas guru dalam menjalankan fungsinya dalam melahirkan generasi Bangsa yang maju. Telkom telah dan secara berkesinambungan akan menjalankan program ini sebagai bagian dari ikhtiar membangun generasi bangsa yang cerdas. Jumlah peserta yang dilibatkan untuk tahap pertama adalah 500 guru. Mereka akan terbagi dalam 10 kelas/angkatan, atau masing-masing angkatan berjumlah sekitar 50 peserta.

Materi pelatihan diarahkan untuk menunjang keterampilan-keterampilan khusus yang diperlukan guru saat menjalankan proses belajar-mengajar serta dalam berinteraksi dengan murid-muridnya. Materi disampaikan oleh para narasumber yang terdiri dari para praktisi, figur publik, atau tokoh yang ahli di bidangnya. Telkom sangat yakin bahwa guru merupakan kunci dalam membangun Bangsa.

TELKOM CSR UNTUK INDONESIA

Dengan lima pilar program strategis TELKOM CSR bidang pendidikan (IG2S, CAP, e-Learning, Smart Campus, dan Generasi Baru Guru), yang dijalankan secara sungguhsungguh, akan semakin menunjukkan bahwa TELKOM sangat serius dalam upayanya ikut mencerdaskan bangsa melalui dukungan berbasis teknologi dan solusi Infokom.

Mencerdaskan bangsa, memang, merupakan suatu upaya besar yang bersifat jangka panjang, namun TELKOM telah merintis jalan menuju keberhasilan yang lebih besar lagi. Di mana keberhasilannya dalam meraih laba dalam kegiatan bisnis, pada saat yang sama, sebagiannya dikembalikan lagi ke tengah-tengah masyarakat dalam berbagai bentuk kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kemajuan bangsa di masa datang.
Berbagai upaya yang telah dilakukan sejatinya merupakan bagian dari wujud tanggungjawab sosial (CSR – Corporate Social Responsibility) TELKOM, sebagai perusahaan nasional, yang peka terhadap berbagai masalah yang dihadapi masyarakat bangsanya. Salah satunya dalam aspek pendidikan, yakni melalui upaya pengentasan kesenjangan digital, meningkatkan akses ke berbagai sumber informasi dengan mengoptimalkan pemanfaatan solusi Infokom terintegrasi, serta meningkatkan kualitas guru.Jum'at, 16 Juni 2006

Selain program Internet Goes to School, TELKOM juga telah mengembangkan program Community Access Point, e-Learning, Smart Campus, dan Generasi Baru Guru Indonesia yang merupakan langkah strategis dalam perannya membangun masyarakat cerdas.
.
»»  READMORE...